Kamis, 02 Juni 2022

Koneksi Antar Materi Modul 3.2 Pendidikan Guru Penggerak

 Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..
Salam sejahtera dan semangat pagi untuk kita semua.. 

Kali ini saya akan membahas mengenai pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Apa saja yang menarik untuk dibahas, mari kita simak tulisan berikut:

Pratap Triloka adalah tiga semboyan dari Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun motivasi), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan). Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi pratap triloka adalah sebagai guru, sebaiknya mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab sebagai pemimpin pembelajaran yang mampu memberi teladan, membangun motivasi, memberi dorongan kepada murid agar dapat berkembang sesuai zamannya dan memiliki potensi dalam diri.

Sejak kita dilahirkan, orangtua kita tentunya telah mengajarkan nilai-nili kebajikan dalam diri. Bahkan semenjak kecil sudah tertanam sebagai karakter yang kita miliki. Prinsip-prinsip itulah yang dapat dipakai sebagai cara untuk  mengambil sebuah keputusan. Hanya saja, setelah mempelajari modul 3.1 ini, semakin menambah pengetahuan bahwa ada beberapa perbedaan antara bujukan moral dan dilema etika. 

Kegiatan coaching yang diberikan pendamping atau fasilitator, merupakan salah satu pembelajaran yang dapat melatih intuisi kita sebagai pengambil keputusan. Dalam coaching, keputusan yang diambil telah efektif untuk masalah yang kita hadapi seorang diri. Sedangkan dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan orang lain, dapat dipelajari lagi di modul 3.1 ini. 

Keterampilan mindfulness (kesadaran penuh) melatih mengelola emosi dengan baik. Hal ini akan mempengaruhi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, karena menyelaraskan hati dan pikiran. Kompetensi sosial emosional pun perlu dilakukan untuk mengambil sebuah keputusan. Dengan kemampuan mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan tujuan positif (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukan empati pada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi), dan membuat keputusan yang bertanggung jawab (pengambilan keputusan yang bertanggungjawab), maka sebagai pemimpin pembelajaran, guru dapat mencapai keputusan yang adil dan bijaksana.

Studi kasus yang telah dipelajari membuat saya memahami bagaimana cara untuk mengambil sebuah keutusan dengan tepat. Jangan sampai kita terbujuk dengan rayuan bujukan moral sehingga kita terjerumus pada kesalahan dalam mengambil keputusan. Situasi dimana terjadi dilema etika, perlu dipertimbangkan apa saja yang paling penting untuk diketahui bersama dan diselesaikan dengan cara yang baik dan bermanfaat untuk banyak pihak. Dengan mengetahui perbedaan ini, saya menjadi lebih yakin apabila nanti akan ada kasus yang mungkin saja serupa, sehingga saya dapat mengambil keputsan yang bertanggungjawab sebagai pemimpin pembelajaran.

Pengambilan keoutusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Contohnya dengan keputusan yang tepat, maka guru akan dapat semakin menghormati pimpinannya. Begitu juga dengan murid, mereka akan semakin menghormati gurunya yang tepat mengambil keputusan dalam kelas. Sehingga murid-murid akan merasa aman serta diperlakukan dengan adil oleh gurunya sebagai pemimpin pembelajaran.

Paradigma yang berlaku sekarang ini banyak sekali yang tidak sesuai dengan etika dan moral yang sesuai aturan yang berlaku. Lingkungan yang seperti ini perlu dirubah paradigmanya agar dapat mengambil pelajaran dari masalah atau kasus yang sedang terjadi. kesulitan yang terjadi di lapangan adalah pembiasaan negatif yang sudah turun temurun dari atasnya. 

Pengaruh pengambilan keputusan yang diambil adalah sebuah pelajaran yang berharga untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Pengalaman ini da[at dimiliki dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita. Yaitu pengambilan keputusan yang dapat mereka ambil atau kita ambil seadil-adilnya dengan resiko yang terkecil. 

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Hal ini karena pemimpin tersebut mampu mengendalikan dan menentukan mana yang termasuk bujukan moral atau dilema etika dan dapat memposisikan dirinya sebagai orang yang ada dalam kesulitan mengambil keputusan atau masalah. Sehingga murid-muridnya pun dapat mengambil pelajaran dari sikap guru tersebut untuk kemudian diteladani dan menjadi contoh sikap murid di masa yang akan datang. 

Kesimpulan akhir dari modul 3.1 ini adalah sikap seorang pemimpin harus berlaku adil pada murid ataupun rekannya untuk menjadikan sebuah pembelajaran dan pengalaman hidup yang berharga. Dalam mengambil sebuah keputusan, perlu dilakukan coaching terlebih dahulu untuk mengetahui apa tindakan yang perlu dilakukan, kemudian menjadi orang yang mengetahui dilema etika dan bujukan moral. Mencari ilmu memang diperlukan, tetapi mencari sebuah cahaya ilmu itu yang paling penting. Nilai yang kita miliki dari semenjak kecil adalah hal yang ada pada diri kita untuk mengambil sebuah keputusan. Perlu banyak berlatih untuk menjadi seorang yang bijak dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, keberpihakan pada murid adalah sebuah keniscayaan. Apapun keputusan yang diambil, harus sesuai aturan yang ada dan berpihak pada murid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penelitian Tindakan Kelas dari Chat GPT

 Assalamu'alaikum warihmatullahi wabarokatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. Kali ini saya akan menjelaskan tentang PTK atau Peneliti...